Selasa, 30 November 2021

Penglibatan Penyair dan Puisi-puisi dari Patani, Thailand dalam PPN

PPN Sebagai Wadah Penglibatan Penyair dan Puisi-puisi Mutakhir di Nusantara : Kajian satu Penglibatan Patani, Thailand.


Di Alam Melayu  atau Nusantara terdapat beberapa pertemuan sastrawan, pertemuan budayawan dan beberapa lagi pertemuan yang dapat menggabungkan sastrawan-sastrawan, budayawan-budayawan dan para peminat bahasa di negara-negara serumpun seperti Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan Melayu minoriti seperti Melayu di Selatan Thailand.

 

 Pertemuan Penyair Nusantara atau ringkasnya PPN adalah satu pertemuan penyair yang terdiri dari penyair di Alam Melayu atau Nusantara. Ini adalah satu usaha untuk menghimpunkan penyair dari Negara-negara serumpun dan Melayu minority serta diaspora Melayu.  Kita tak boleh menafikan peranan Pertemuan Penyair Nusantara dalam penggabungan penyair-penyair serumpun. Dan pertemuan ini adalah satu peluang bagi penyair dari masyarakat Melayu di Selatan Thailand, baik Melayu Patani dan Melayu Setul.

 

Semenjak Pertemuan Penyair Nusantara yang pertama pada 25-29 Mei 2007 di Kota Medan, Provinsi Sumatra Utara, Indonesia. Pihak penyair Melayu di Selatan Thailand telah berminat untuk ikut serta dalam pertemuan tersebut. Walaupun begitu pihak penyair Melayu dari Selatan Thailand mulai penglibatan dalam Pertemuan Penyair Nusantara kali ke 3 di Kuala Lumpur dan seterusnya di Pertemuan Penyair Nusantara kali ke 4 di Bandar Seri Begawan, Brunei dan terakhir di Pertemuan Penyair Nusantara kali ke 5 di Kota Palembang, Provinsi Sumatra Selatan, Indonesia.

 

Penglibatan penyair Melayu dari Selatan Thailand bukan saja dapat berkenalan dengan para penyair serumpun dari Indonesia, Malaysia, Brunei, Singapura dan lain lain lagi. Tetapi telah berlaku beberapa kerjasama seperti perkongsian puisi puisi untuk dibukukan,  dan Pertemuan Penyair Nusantara adalah satu jambatan untuk menyatukan  penyair-penyair dari Alam Melay atau Nusantara. Dengan penglibatan penyair Melayu dari Patani dan Setul, Selatan Thailand dapat membuktikan Melayu di kedua dua kawasan tersebut di Selatan Thailand adalah sebahagian dari Nusantara.

Selasa, 23 November 2021

REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA BAHARI NUSANTARA (Bahagian 2) - Prof. Dr. Firdaus L.N., M.Si, Universitas Riau, Indonesia.

L.N. Firdaus

 

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru 28293, Riau, Indonesia

 

Corressponding Author:

 

firdausln@lenturer.unri.ac.id

 

Selalu berupaya Adil dan Benar serta tidak serakah menjadi sandaran Budaya Melayu yang selalu ditanamkan kepada masyarakatnya, seperti ungkapan adat: “Adat berlaba sama merasa, adat berezeki sama dibagi”. Nilai-nilai ini dapat mewujudkan anasir pemerataan melalui perencanaan pembangunan yang adil dan merata sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan sejalan dengan aspirasi masyarakat seperti dalam ungkapan:  “Adat merancang sama ditimbang”.  

 

Merancang dan melaksanakan pembangunan memerlukan wawasan yang luas melebihi luasnya Kepulauan Nusantara serta berpandangan jauh ke depan melampaui jauhnya batas pandang imajiner Wawasan Nusantara. Budaya Melayu sejak dahulu mengajarkan agar anggota masyarakatnya haruslah berwawasan luas dan berpandangan jauh ke depan, agar mereka tidak tergilas oleh perkembangan zaman dan tidak terjebak oleh rancangan yang “asal Jadi” atau terpaku kepada keperluan “semusim”. Sebab itu tidak lah mengherankan kenapa dulu Nenek Moyang kita yang dikenal sebagai Bangsa Pelaut itu mampu menakjubkan manusia sekarang. Mereka mampu mengarungi samudra maha luas dalam zaman yang dianggap kuno, melintasi 10.000 kilometer ke Timur di Lautan Pasifik dan 7000 kilometer ke Barat di Lautan Hindi (Ismail Hussein, 2001). Ungkapan adat megingatkan: “Supaya kerja memberi manfaat, jangan sekali berpandangan singkat” atau dikatakan: “apabila kerja mau senonoh, layangkan pandangan jauh-jauh”.

 

Tidak akan ada profesionalisme tanpa ketekunan. Pembangunan tidak dapat dilakukan dengan bermalas-malasan. Kearifan Budaya Melayu mengajarkan: “Apa tanda Melayu Sejati, bekerja tidak separuh hati”, atau dikatakan: “Apa tanda Melayu terbilang, bekerja tidak alang kepalang”, “Kalau hidup tak mau lenjin, pertama tekun kedua rajin”. Bila nilai-nilai luhur Budaya Bahari ini diamalkan secara konsisten, maka profesionalisme para aparatur pemerintahan akan sangat berkesan dalam Good Governance. Budaya Melayu juga menjungjung tinggi Ilmu Pengetahuan dan Teknologi. Orangtua-tua mengatakan: “supaya kerja tidak terbengkalai, bekerja jangan memandai-mandai; supaya kerja membawa faedah, bekerja jangan mengada-ada” atau dikatakan: “supaya tidak mendapat malu, duduk bertanya tegak berguru”.  Orang professional sangat menghargai waktu. Budaya Melayu mengajarkan agar setiap orang disiplin terhadap waktu dan harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Ungkapan adat mengatakan: “supaya kerja cepat selesai, jangan sekali berlalai-lalai; apabila suka berlengah-lengah, niat tak sampai kerja tak sudah”, atau dikatakan: “apabila hidup hendak terpandang, masa yang ada jangan terbuang; apabila hidup hendak terpandang, masa yang ada jangan dibuang; apabila hidup hendak terpuji, bekerja jangan membuang hari”.

 

Nilai-nilai Budaya Bahari yang merepresentasikan akuntabilitas, lazim dituangkan dalam ungkapan rasa bertanggungjawab: “tangan mencencang bahu memikul” atau sifat Berani “adat bersumpah pantang dilapah, adat berjanji pantang dimungkiri, adat bekerja pantang bermanja”  dan Tabah “adat bekerja tahan menderita”. Untuk mewujudkan tata kepemrintahan yang baik dan benar, nilai-nilai tersebut amat diperlukan, terutama dalam memotivasi masyarakat agar mereka ikut bertanggungjawab terhadap pembangunan dan tidak semata-mata menyerahkan tanggungjawab itu kepada pemerintah atau pihak lain.

 

Budaya Melayu sangat mengutamakan rasa malu,  Tahu diri,  Arif dan Bijak.  Dari sifat malu inilah, terbentuknya keperibadian yang terpuji, sehingga merasa “malu berbuat curang, malu melakukan korupsi, malu menganiaya orang, malu berbuat maksiat, malu bersumpah palsu, malu menistakan orang, malu mencaci maki, malu menghujat, malu menyumpah serapah, malu melempar sepatu dalam majelis, malu memfitnah, malu mencaru-marut, malu berbuat semena-mena, malu memaksakan kehendak”, dan lain sebagainya. Aktualisasi nilai-nilai Budaya Bahari ini dalam menunaikan amanah pembangunan niscaya dapat mewujudkan pengawasan yang efektif.

 

Kesemua nilai-nilai luhur dalam Budaya Bahari tersebut tentulah  bila disimak, dicerna, dihati, dan diamalkan dengan sungguh-sungguh dalam perancangan dan pelaksanaan pembangunan Nasional. Budaya organisasi amat besar pengaruhnya pada keberhasilan dan mati hidup sebuah organisasi (Sofian Effendi, 2005). Munculnya Negara-negara yang unggul karena mereka memiliki etos kerja dan spirit yang tinggi, yang selanjutnya menjadi semacam budaya. Bangsa-bangsa tersebut memiliki budaya korporat yang mereka tuangkan dalam visi, misi dan tujuannya. (Taufiq Effendy, 2008).

 

Budaya kerja itu tidak akan muncul begitu saja, akan tetapi harus diupayakan dengan sungguh-sungguh melalui suatau proses yang terkendali yang melibatkan semua SDM dalam seperangkat system, sarana, dan teknik-teknik pendukung (Tenas Effendy. 2004b; Gering Supriyadi dan Tri Guno, 2006). Budaya kerja merupakan Kawah Candradimuka untuk merubah cara kerja lama menjadi cara kerja baru yang berorientasi untuk memuaskan pelanggan atau masyarakat. Budaya kerja adalah suatu falsafat yang didasari oleh pandangan hidup manusia terhadap diri dan lingkungannya sebagai nilai-nilai yang menjadi sifat, kebiasaan, dan motivasi, membudaya dalam kehidupan suatau kelompok masyarakat atau organisasi, kemudian tercermin dari sikap menjadi prilaku, kepercayaan, cita-cita, pendapatan, dan tindakan  atau bekerja.

 

Dari nilai-nilai Budaya Bahari Nusantara itu dapat dibuktikan bahwa budaya Melayu mengutamakan persatuan dan kesatuan atau persebatian antar sesama anggota masyarakat tanpa memandang asal-usulnya. Ungkapan yang sering didengar, “Bersatu kita teguh bercerai kita runtuh,  Ke bukit sama mendaki ke lurah sama menurun, Berat sama dipikul ringan sama dijinjing”. Selain itu, ada nilai kebersamaan, rasa kasih mengasihi, dan saling bertenggang rasa yang terkenal melalui ungkapan: “ Setikar sebantal tidur, Sepiring sepinggan makan, Seanak sekemenakan, senenek dan semamak, Seadat dan sepusaka, Makan tidak menghabiskan minum tidak mengeringkan”.

 

PENUTUP

 

Nilai-nilai Budaya Bahari Nusantara yang sangat kaya secara realistik dapat dikembangkan dalam upaya membangun masyarakat multikultural karena nilai-nilai tersebut sesungguhnya telah bersebati dalam diri Anak Bangsa di Kepulauan Nusantara. Ianya sangat krusial dan strategis dari perspektif  membangun Modal Sosial sebagai upaya akseleratif terwujudnya Indonesia Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil dan Makmur.

 

Hasil penyerbukan silang nilai-nilai budaya bahari ini dapat melahirkan Keceradasan Budaya sebagai modal sosial untuk membangun konektivitas dan inklusivitas sosial sehingga dapat menyatukan keragaman kepingan-kepingan kepentingan pribadi dan kelompok ke dalam suatu komunitas persaudaraan bersama yang menjadi tumpuan rasa saling percaya dan menjadi kekuatan kolektif yang kohesif, konektif dan inklusif.

 

Para penyelenggara Negara diharapkan insaf bahwa kebudayaan bukan sub-ordinat pembangunan, tetatapi sebagai ordinat. Pemahaman kebudayaan sebagai ordinat itu perlu diaktualisasikan dalam perencanaan dan penyelenggaraan Negara. Dunia pendidikan diharapkan dapat memadukan dan mengaktualisasikan nilai-nilai budaya bahari tersebut ke dalam  Kurikulum Pendidikan Multikultural secara insklusif di Persada Nusantara.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Adrian B. Lapitan. (2008). Pelayaran dan Perniagaan Nusantara Abad     

       ke- 16 dan 17. Komunitas Bambu, Depok. Jakarta.

Bambang Budi Utomo. (2007).  Pemaknaan indonesia raya dalam   

konteks kekinian . Makalah Yang Dipresentasikan Dalam  Seminar Kontroversi Lagu Indonesia Raya, Jakarta 24 Agutus 2007. 

Djoko B. (2008). Togog Menggugat Negeri Maling; Kisah-kisah  

Inspiratif Sarat Makna untuk Membangun Bangsa.  rumah.tumbuh Publishing. Surakarta.

Djoko Pramono. (2005). Budaya Bahari. Gramedia, Jakarta.

Fukuyama, F. (2007). TRUST: Kebajikan Sosial dan Penciptaan  

Kemakmuran. Penerbit Qalam. Yogyakarta.

Gering Supriyadi dan Tri Guno. (2006). Budaya Kerja Organisasi

Pemerintah;  Bahan Ajar Diklat Prajabatan Golongan III. Lembaga Administrasi Negara Republik Indonesia, Jakarta.

H.S. Umar. (1986). Nelayan, Petani dan Priyayi Melayu di Riau.

Dalam Muchtar Lutfi (Ed). Masyarakat Melayu Riau dan

Kebudayaannya, pp. 539- 550.Pemerintah Provinsi Riau, Pekanbaru.

Harari, Y.N. (2017). Sapiens: Riwayat Singkat Umat Manusia. KPG

(Pustaka Populer Gramedia), Jakarta.

Harari, Y.N. (2019). Homo Deus: Masa Depan Umat Manusia. KPG

(Pustaka Populer Gramedia), Jakarta.

Hasanuddin WS. (2003). Pemeliharaan dan Pengembangan Budaya

Melayu. Dalam Kumpulan Makalah Seminar Budaya Melayu

Sedunia 2003, pp.122-131. Pemerintah Provinsi Riau,

Pekanbaru,.

Huntington, S.P. (2005). Benturan Antar Peradaban dan Masa Depan

Politik Dunia. Penerbit Qalam, Yogyakarta.

Husni Thamrin. (2003). Problematika Masyarakat dan Kebudayaan

Melayu di Asia Tenggara. Dalam Kumpulan Makalah Seminar

Budaya Melayu Sedunia 2003, pp.249-272. Pemerintah

Provinsi Riau, Pekanbaru.

Ismail Hussein. (2001). Antara Dunia Melayu dan Dunia Kebangsaan.

Dalam Ismail Hussein, Wan Hashim Wan The, dan Ghazali Shafie (Eds.). Tamadun Melayu Menyongsong Abad Kedua Puluh

Satu, pp. 10-44. Penerbit UKM, Malaysia.

Jujun S. Suriasumantri. (2000) Filsafat Ilmu; Sebuah Pengantar

Populer. Sinar Harapan. Jakarta.

Koentjaraningrat. (1974). Kebudayaan, Mentalitet dan

Pembangunan. Gramedia, Jakarta

Koentjaraningrat. (1986) Bahasa Melayu, Bahasa Nasional, dan

Bahasa Jawa. Dalam Muchtar Lutfi (Ed). Masyarakat Melayu

Riau dan Kebudayaannya, pp. 9-16. Pemerintah Provinsi Riau,

Pekanbaru.

Maggi Savin-Baden. (2021). Postdigital Humans:  Transitions,

Transformations and Transcendence. Springer Nature,

Switzerland

Muchtar Ahmad. (1986). Teknologi Bahari dalam Masyarakat Riau. 

Dalam Muchtar Lutfi (Ed). Masyarakat Melayu Riau dan

Kebudayaannya, pp. 203-210. Pemerintah Provinsi Riau,

Pekanbaru.

Muchtar Ahmad. (2004). Kembali ke Puncak; Kebudayaan Melayu

dalam Cabaran Masa Depan. Unri Press, Pekanbaru.

Muhammad NUH, (2013). Menyemai Kreator Peradaban: Renungan

tentang Pendidikan, Agama, dan Budaya. Penerbit Zaman,

Jakarta.

Nurcholis Majid. (2004). Indonesia Kita. Penerbit PT Gramedia

Pustaka Utama, Jakarta.

Parsudi Suparlan (1986). Melayu dan Non Melayu: Kemajemukan

dan Identitas Sosial Budaya. In. Budidantoso et al. (Eds).

Masyarakat Melayu Riau dan Kebudayaannya. Pemerintah

Provinsi Daerah Tingkat 1 Riau, Pekanbaru, pp. 465-483.

Sofian Effendi. (2005). Membangun Budaya Birokrasi Untuk Good

Governance. Makalah Lokakarya Nasional Reformasi Birokrasi

Diselenggarakan Kantor Menteri Negara PAN 22 September

2005, Jakarta.

Suka Hardjana. (2008). Jas Wakil Rakyat dan Tiga Kera; Percikan

Kebijaksanaan. KOMPAS. Jakarta.

Sultan Hamengku Buwono X. (2007). Merajut Kembali

Keindonesiaan Kita. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama,

Jakarta.

Suwardi MS. (2003). Budaya Melayu dalam Citra Tamadun Bahari.

Dalam Kumpulan Makalah Seminar Budaya Melayu Sedunia

2003, pp.35-45. Pemerintah Provinsi Riau, Pekanbaru.

Suwardi MS. (2008). Dari Melayu ke Indonesia: Peranan Kebudyaaan

Melayu dalam Memperkokoh Identitas dan Jati Diri Bangsa.

Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Tenas Effendy. (2000). Peranan Budaya dalam Pembangunan.

Pekanbaru (Tidak diterbitkan)

Tenas Effendy. (2003).  Nilai-nilai Asas Pesebatian Melayu.

Pekanbaru (Tidak diterbitkan).

Tenas Effendy. (2004a). Tunjuk Ajar Melayu; Nutir-butir Budaya

Melayu Riau.  Balai Kajian dan Pengembangan Budaya Melayu

bekerjasama dengan Penerbit AdiCita,  Yogyakarta.

Tenas Effendy. (2004b). Ethos Kerja.Unri Press. Pekanbaru.

Yudi Latif. (2020). Pendidikan yang Berkebudayaan: Histori, Konsepsi,

dan Aktualisasi Pendidikan Transformatif. Penerbit PT

Gramedia Pustaka Utama, Jakarta.

Isnin, 22 November 2021

REVITALISASI NILAI-NILAI BUDAYA BAHARI NUSANTARA (Bahagian 1) - Prof. Dr. Firdaus L.N., M.Si, Universitas Riau, Indonesia.

L.N. Firdaus

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Riau, Pekanbaru 28293, Riau, Indonesia

 

Corressponding Author:

firdausln@lenturer.unri.ac.id

 

PENDAHULUAN

 

Fenomena kesadaran akan identitas etnis, kultural, dan Agama kian meningkat yang dipicu oleh modernisasi, perkembangan ekonomi, urbanisasi, dan globalisasi sehingga mendorong masyarakat memperkecil jati diri serta menafsirkannya dalam pengertian kemasyarakatan yang lebih sempit (Huntington, 2005). Ajakan Sultan Hamengku Buwono X (2007) Merajut kembali keindonesiaan kita merupakan sebuah isyarat adanya krisis nilai-nilai keanekagaman budaya etnis yang menghiasi persada Nusantara.

 

Lagu “Nenek Moyangku Orang Pelaut. Gemar mengarungi luas samudra” yang populer 1960-an hamper tak pernah dinyajikan lagi. Padahal,  sesiapa saja yang meresapinya dalam-dalam nilai yang tersebat dalam bair lagu tersebut, niscaya akan  timbul rasa kebanggaan sebagai Anak Bangsa terhadap  nilai perjuangan yang sanggup mempersatukan kita hari ini. Kenapa narasi tersebut sanggup menggetarkan semangat persatuan  kita? Macam-macam penjelasan yang mungkin. Satu diantaranya, boleh jadi karena ianya mengandung nilai-nilai perjuangan suci Nenek Moyang kita dalam membangun Tamadun Nusantara yang maju dan bermarwah.

 

Wawasan Nusantara memandang laut sebagai satu keutuhan wilayah, dengan darat udara, dasar laut, dan tanah di bawahnya, serta seluruh kekayaan yang terkandung di dalamnya yang tidak mungkin dipisah-pisahkan. Jadi, ketika orang mulai “menjauhi” laut, maka mulai terpisahlah bangsa ini. Padahal melihat sejarah penyebarannya, mayoritas sukubangsa yang ada di Nusantara ini berasal dari satu induk, yaitu rumpun Austronesia (Bambang Budi Utomo, 2007). 

 

Kini, nuansa kebanggaan itu agaknya semakin memudar hati anak bangsa.   Boleh jadi karena ramai anak bangsa ini sudah merasa muak dengan perangai yang saban hari mereka dengar, tonton, bahkan yang mereka alami dan rasakan sendiri dalam kehidupan berbangsa dan bernegara dengan atmosfir yang pengap dengan kemunafikan, korup, tak adil, bertele-tele dan masih banyak lagi yang menyakitkan hati. Jika kegersangan sosial dan kemusyrikan sosial semakin subur, maka nilai-nilai kemanusiaan akan sulit tumbuh (Muhammad NUH, 2013).  Kegersangan sosial terjadi karena ketidakseimbangan antara penegembangan kecerdasan minda dan kecerdasan hati. Kebanyakan manusia Indonesia hari ini lebih memetingkan keselamatan diri sendiri dan kelompoknya ketimbang persoalan bangsa yang sarat dengan konflik tak berkesudah yang hanya menimbulkan kebencian sehingga merobek tenunan-tenunan sosial sebagai perekat persebatian.

 

Modal untuk membangun suatu bangsa atau daerah bukanlah ditentukan oleh kekayaan alam dan modal finansial yang melimpah, melainkan modal sosial (social capital) yang dimiliki bangsa atau daerah (Fukuyama, 1995). Pada masa lalu, manusia (Homo sapiens)  menaklukkan dunia berkat kemampuan unbiknya yang percaya pada mitos-mitos kolektif tentang dewa, uang, kesetaraan, dan kebebasan (Harari, 2017), namun di masa depan, manusia (Homo deus) akan menggeser kekuataan global, dari seleksi alam sebagai kekuatan utama evolusi menuju teknologi baru tingkat dewa, seperti kecerdasan buatan dan rekayasa genetika (Harari, 2019). Dan lebih ke depan lagi, persoalan kemanusiaan akan menjadi ultra-kompleks dengan hadirnya  manusia pasca digital (Maggi Savin-Baden (2021).

“Kebaikan dalam segala kegiatan manusia adalah pancaran suara hati yang terang, yang nurani”, ujar Nurcholis Madijd dalam Bukunya “Indonesia Kita” (2004). Sebaliknya, “kejahatan adalah pancaran suara hati yang gelap, yang zulmani”. Karena itu dalam memandang dan menilai persoalan kehidupan masyarakat multikultural diperlukan ketajaman sensitivitas hati nurani yang kian menunjukkan gejala-gejala menuju kematian.  


Pengikisan Nilai

Nilai  pencerahan dari peradaban Bahari yang diwariskan oleh Nenek Moyang kita melalui perjuangan tiada mengenal lelah ini-- seakan-akan tak bergeming oleh euphoria anak negeri yang gemar  mengambil milik orang lain bukan haknya. Fenomena ini secara kasat mata dapat diteroka dari kecendrungan perilaku anak bangsa yang paradoksal. Kebesaran Nilai-nilai Budaya Bahari Nusantara semestinya membuat anak bangsa ini insyaf dan lebih arif dalam bertindak melalui laku “Merangkai Pulau, Memakmurkan Negeri”, bukan sebaliknya “Menjual Pulau, Meluluhlantakkan Negeri”.

 

Djoko Pramono (2005) sangat prihatin dengan kondisi masih terbatasnya pemahaman maupun pemanfaatan khasanah kekayaan kebaharian Nusantara. Penelusurannya terhadap unsur-unsur kekuatan laut seperti letak geografis, bangun muka bumi, luas dan setting wilayah, budaya komunitas pesisir, dan faktor institusional membawanya pada sebuah kesimpulan bahwa kemunduran kehidupan kebaharian kita disebabkan oleh faktor-faktor internal, seperti konflik, intrik, dan keserakahan antar berbagai unsur internal.

Penelusuran Adrian B. Lapian (2008) tehadap jejak penduduk Nusantara dengan budaya maritimnya mampu membawa kita mengenali budaya maritim dan pasang surut suatu episode penting zaman Bahari di Indonesia dengan Enterprising Spirit yang memukau. Perkara benci kepada sesuatu adalah urusan hati. Perkara cinta setengah mati juga urusan hati. Jadi,  akar masalah kian memudarnya rasa cinta kepada negara dan bangsa  pasti lah juga mesra hubungannya dengan  rasa sakit hati anak bangsa ini.

Nilai-nilai kearifan Budaya  Bahari Nusantara

 

Indonesia merupakan Negara Kepulauan Terbesar di Asia Tenggara yang terletak pada posisi silang antara dua benua (Asia Daratan dan Australia) dan dua samudra (Samudra Indonesia dan Pasifik), dengan luas lautnya dua pertiga dari luas daratan. Eksistensi Negara Indonesia di posisi silang strategis itu mendedahkan suatu proses akulturasi yang membentuk Bangsa Indonesia seperti sekarang, baik dalam aspek religi, sosial budaya, maupun bahasa. Cara pandang Bangsa Indonesia terhadap diri dan lingkungannya merupakan satu kesatuan yang utuh.

 

Bagi Indonesia,  laut merupakan  sumber kemakmuran, alat pemersatu Bangsa dan Negara  yang menjadi tumpuan harapan, peluang menuju masa depan yang cemerlang, gemilang, dan terbilang dalam upaya meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Nenek Moyang Bangsa Indonesia sangat arif mewariskan pesan Kultural Bahari kepada anak cucunya:


“Kalau hidup hendak selamat,

peliharalah: Laut beserta Selat, Tanah berhutan lebat karena di situ terkandung:

 Rezeki dan Rahmat, Tansil Ibarat, Aneka Nikmat, Beragam Manfaat, dan

Petuah Adat”.

 

“Tanda orang Berbudi Pekerti, merusak alam ia jauhi”,

“tanda orang berakal budi, merusak hutan ia tak sudi”,

“tanda ingat ke hari tua, laut dijaga bumi dipelihara”,

 “tanda ingat ke hari kemudian, taat menjaga laut dan hutan”.

 

Sejarah Indonesia juga mencatat bahwa masyarakat Indonesia terdiri dari berbagai suku bangsa yang hidup dalam lingkup budayanya masing-masing. Keanekaragaman budaya ini menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia merupakan masyarakat majemuk.  Budaya suku-suku bangsa yang tersebar dari Sabang sampai Merauke merupakan hamparan kekayaan budaya Indonesia. Wawasan Nusantara telah terbukti dapat mempersatukan Bangsa Indonesia melalui Kalung “Bhinneka Tunggal Ika”. Namun kenapa dalam perkembangan terkini, terutama di era otonomi daerah cenderung mengancam keutuhan NKRI yang mengarah kepada tumbuhnya Chauvinisme Kedaerahan? Padahal UUD NKRI 1945 melalui Pasal 32 secara tegas menyatakan. “Pemerintah memajukan kebudayaan nasional Indonesia”. Ini mengindikasikan bahwa telah terjadi erosi semangat kebangsaan  yang bernilai luhur. Dijelaskan pula bahwa kebudayaan Lama dan Asli sebagai puncak-puncak kebudayaan di daerah di seluruh Indonesia diperhitungkan sebagai Kebudayaan Bangsa. Yudi Latif (2020) memberikan pencerahan bahwa “Puncak-puncak kebudayaan di daerah” itu adalah budaya-budaya di daerah yang memiliki daya sintas (berpotensi dihidupkan kembali). Selain daya sintas, puncak-puncak kebudayaan itu adalah kebudayaan daerah yang unggul (local wisdom).

 

Koentjaraningrat (1974) mendefinisikan budaya sebagai “keseluruhan sistem gagasan, tindakan, dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan cara belajar”.  Merujuk pada konsepsi budaya tersebut, nilai-nilai Budaya Bahari Nusantara akan lebih mudah digali dari tapak-tapak Budaya Melayu dalam Tamadun Bahari Nusantara yang nota bene menjadi pionir mengarungi Kepulauan Nusantara. Parsudi Suparlan & Budhisantoso (1985) mengemukakan bahwa   Orang Melayu merupakan salah satu suku bangsa di Indonesia yang cukup besar jumlahnya dan sangat luas wilayah persebarannya. Ismail Hussein (2001) dari perspektif Tamadun Melayu menyongsong Abad Kedua Pulus Satu menegaskan bahwa Dunia Melayu itu selalu terbuka luas, laksana samudera lepas yang mengelilinginya, dan selalu menerima serta menyerap pelbagai unsur yang menyentuh pantainya, namun di samping itu tetap mempertahankan kepribadiannya yang unik.

 

Ada tiga wujud utama suatu kebudayaan  yang dapat dijadikan situs penggalian nilai-nilai budaya (Koentjaraningrat, 1974); pertama, sebagai suatu kompleksitas dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma, peraturan, dan sebagainya; kedua, sebagai suatu kompleksitas aktivitas kelakukan berpola dari manusia dalam masyarakat; dan ketiga, wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Dalam realitas kehidupan sehari-hari, ketiga wujud kebudayaan tersebut tidak terpisah satu sama lain, dan bahkan saling mengisi dan bertaut secara erat. Itulah sebabnya, Koentjaraningrat menyederhanakan rumusan kebudayaan sebagai “keseluruhan gagasan dan karya manusia yang harus dibiasakan dengan belajar, beserta keseluruhan dari hasil budi dan karyanya itu”.

 

Dari wujud pertama kebudayaan, nilai-nilai Budaya Bahari dapat dikenal secara pasti melalui semua nilai-nilai tunjuk ajar Melayu yaitu segala jenis petuah, petunjuk, nasihat, amanah, pengajaran, dan contoh tauladan yang bermanfaat bagi kehidupan manusia dalam arti luas (Tenas Effendy, 2004). Dari wujud kebudayaan yang kedua, nilai-nilai budaya Bahari Nusantra dapat ditemukenali dari bukti dan fakta prasejarah Indonesia bahwa Nenek Moyang Bangsa Indonesia adalah Asli Bangsa Pelaut atau pengembara (Adrian B. Lapian, 2008). Mereka sejak ribuan tahun Sebelum Masehi ternyata sudah mampu mengarungi dunia sebagai pelaut-pelaut ulung yang kebudayaannya masih dapat dilacak sampai saat ini. Berbagai kerajaan yang pernah berdiri di wilayah Nusantara pada umumnya juga memiliki dasar nilai-nilai kebudayaan kebaharian (H.S. Umar, 1986; Djoko Pramono, 2005). Temuan terhadap beraneka ragam Teknologi Bahari (Muchtar Ahmad, 1986, 2004; Suwardi MS, 1986; Husni Thamrin, 2003; Djoko Pramono, 2005; Adrian B. Lapian, 2008) oleh   masyarakat Melayu yang mendiami Kepulauan Nusantara memberikan sumbahan nilai-nilai Budaya Bahari yang sangat berharga sebagai wujud kebudayaan dalam bentuk benda-benda (artefak). Oleh sebab itu, para Sejarawan dan Antropolog mengatakan bahwa “Kebudayaan Melayu adalah Kebudayaan Bahari” (Tenas Effendi, 2000; Muchtar Ahmad, 1986, 2004).

 

Puncak Tamadun Bahari Nusantara ini  adalah dijadikannya Bahasa Melayu Riau sebagai landasan bagi pengembangan Bahasa Nasional Indonesia (Parsudi Suparlan dan Budhisantoso, 1986). Mengapa Bangsa Indonesia memilih Bahasa Melayu Riau, suatu bahasa yang diucapkan oleh suku-bangsa minoritas yang tinggal di Daerah Riau dengan jumlah sekitar setengah juta jiwa saja dalam tahun 1930?; Kenapa Bangsa Indonesia tidak memilih Bahasa Jawa yang pakai oleh hampir 42 juta orang pada kurun yang sama? Jawaban politik resmi atas pertanyaan-pertanyaan tersebut adalah Bahasa Melayu Riau sebagai representasi Lingua Franca di wilayah Nusantara mengandung nilai-nilai “semangat solidaritas”, “kesetiakawanan”, dan “gotong royong” yang tinggi (Koentjaraningrat, 1986). Bila demikian adanya, maka upaya menghidupkan kembali (revitalisasi) nilai-nilai Budaya Bahari Nusantara dalam tata kepemerintahan dan tata kehidupan berbangsa dan bernegara tidak lain adalah upaya aktualisasi Wawasan Nusantara dalam mewujudkan Good Governance.

 

Revitalisasi Nilai-nilai Budaya Bahari Nusantara

 

Pembukaan UUD 1945 menegaskan dimensi spiritual dari sistem administrasi negara  kita, berupa pernyataan keimanan dan pengakuan kemahakuasaan Allah SWT dalam perjuangan bangsa (alinea tiga); serta cita-cita dan tujuan bernegara, dan sistem pemerintahan negara (alinea empat). Budaya Melayu Riau sebagai representasi Budaya Bahari Nusantara memiliki nilai-nilai spiritual luhur yang patut dan layak dijadikan basis nilai-nilai pembauran dalam masyarakat multicultural.

 

Masyarakat Melayu adalah masyarakat yang majemuk sebagai punca dari sifat keterbukannya itu sehingga didatangi oleh berbilang kaum dan suku bangsa. Kemajemukan itu menumbuhkan wawasan yang luas sehingga ilmu pengetahuan pun berkembang. Sifat pluralistik Tamadun Bahari Nusantara ini memberi laluan bersebatinya aneka nilai budaya  sehingga rancangan dan pelaksanaan pembangunannya bersifat dinamis, penuh alternatif. Dengan corak seperti itu, masyarakat dapat memberikan pilihan yang tepat sesuai dengan situasi, kondisi dan nilai-nilai budaya yang dianutnya.

 

Ismail Hussein (2001) secara arif mengakui bahwa Dunia Melayu itu penuh keragaman dari segi keagamaan, kebudayaan, kesenian serta adat resam, tetapi di bawah keragaman itu selalu terasa ada satu kesatuan yang mengikatnya. Persebatian Melayu hakikatnya adalah nilai “persatuan dan Kesatuan” yang menjadi asas dari terwujudnya kerukunan hidup antarmasyarakat, antarkaum, antarsuku, dan antarbangsa (Tenas Effendy, 2003). Nilai-nilai persebatian inilah (kemajemukan, tenggang rasa, kegotong-royongan, senasip-sepenanggungan, musyawarah dan mufakat, dan rela berkorban) yang memungkinkan kerjasama antar sesama anggota masyarakat tanpa memandang asal-usulnya. Nilai-nilai budaya Bahari ini dapat disimak melalui ungkapan adat: “Elok rencana karena bersama, terkabul niat karena mufakat”, “apabila kerja hendak bermanfaat, dahulukan dengan duduk mufakat”, “apabila kerja hendak semenggah, bawalah umat bermusyawarah”. 

 

Telah jamak diketahui bahwa Melayu itu  identik dengan Islam. Budaya Melayu adalah budaya yang sumber dan acuannya bersebati dengan ajaran Agama Islam. Karenanya Islam tidak dapat dipisahkan dari kemelayuan, bahkan dianggap sebagai “Jati Diri Kemelayuan” seseorang. Nilai inilah berpuncanya nilai-nilai luhur Budaya Melayu (Hasanuddin WS, 2003). Amanah dalam Budaya Melayu adalah nilai taat dan setia terhadap sumpah dan janji, dan tata dan setia pula dalam memikul tugas dan tanggungjawab yang dipercayakan kepadanya. Ungkapan adat mengatakan: “apabila taat memegang amanah, tegaklah tuah berdiri marwah”, atau dikatakan: “tanda orang berbudi pekerti, taat memegang amanah dan janji” atau “apabila kerja hendak semenggah, jangan sekali melanggar amanah”.

 

Sejarah mencatat bahwa kunci kejayaan kerajaan-kerajaan Melayu Nusantara merupakan andil dari kebudayaannya yang bersifat terbuka. Dengan keterbukaan itulah, berbagai unsur positif budaya luar yang mereka cerap dan cerna dapat mempekaya khasanah Budaya Melayu sehingga meningkatkan kecerdasan, taraf hidup dan kesejahteraan rakyat. Sifat keterbukaan itu menjadikan mereka dikenal arif dalam menyusun kebijakan pembagunan, berjaya dalam perniagaan, ekonomi, dan sebagainya sehingga mereka mampu mengarungi samudra luas menjalin hubungan dagang dan politik dengan berbilang bangsa.

 

Perilaku Responsif sebagai cerminan Pelayanan Prima dalam Good Governance hanya dimungkinkan oleh  aparatur yang berkarakter rendah hati, pemurah, sabar, lapang dada. Sikap ini secara turun temurun dikekalkan dalam Budaya Melayu sebagai jati dirinya. Konon, istilah “Melayu” itu pun berasal dari “melayukan” diri, yakni merendahkan hati, berlaku lemah lembut, dan berbuat ramah tamah (Tennas Effendy, 2004a).

 

(Sambung bahagian 2)


Ahad, 7 November 2021

บทกวีซีตีซูไบดะห์ สงครามกับจีน หรือ Syair Siti Zubaidah Perang Cina

โดย นิอับดุลรากิ๊บ บินนิฮัสซัน

เป็นบทกวีโบราณภาษามลายูในศตวรรษที่ 19 ที่ไม่ทราบว่าผู้ใดเป็นผู้เขียน บทกวีนี้เป็นเรื่องราวเกี่ยวกับผู้หญิงคนหนึ่งที่ปลอมตัวเป็นผู้ชายและสามารถชนะจีนเพื่อช่วยสามีของเธอ บางคนก็กล่าวว่าบทกวีนี้มีพื้นฐานมาจากเหตุการณ์ในประวัติศาสตร์

เนื้อหาของบทกวี

เริ่มด้วยสุลต่านดาร์มานชาห์ (Sultan Darman Syah) แห่งราชอาณาจักร Kembayat Negara กล่าวกันว่า อาจหมายถึงอาณาจักรกัมพูชา หรืออาจเป็นอาณาจักรจัมปา หลังจากพระองค์มีความพยายามอยู่หลายปีที่จะมีบุตร และในที่สุดพระองค์กับภรรยาก็สามารถมีลูกชายคนหนึ่ง ซึ่งพวกเขาตั้งชื่อว่า ไซนัลอาบีดิน (Zainal Abidin) พวกเขาเลี้ยงบุตรเพื่อให้เป็นมุสลิมที่เคร่งศาสนา และเมื่ออายุได้หกขวบ ไซนัลอาบีดิน ก็ถูกส่งตัวไปเรียนการอ่านอัลกุรอานและเรียนรู้ศิลปะการต่อสู้ ที่ราชอาณาจักรอื่น

ในภายหลังเกิดการจลาจล จนนำสู่การฆ่าพ่อค้าชาวจีน ในที่สุดคนเชื้อสายจีนทั้งหมดหนีออกจากราชอาณาจักรของพระองค์ และเดินทางกลับจีน จักรพรรดินีจีนโกรธที่ราชอาณาจักรของสุลต่านดาร์มานชาห์ ปฏิบัติไม่ดีต่อประชาชนของเธอ จึงสั่งให้ลูกสาวทั้งเจ็ดของเธอเตรียมทำสงครามกับราชอาณาจักรของสุลต่านดาร์มานชาห์

 

ต่อมาทางไซนัล อาบีดิน ได้ฝันถึงหญิงสาวคนหนึ่ง ในความฝันนั้นหญิงสาวมีความสวยงาม  หนุ่มไซนัล อาบีดิน จึงได้ออกเดินทางจากราชอาณาจักร Kembayat Negara เพื่อตามหาหญิงสาวสวยในฝันของเขา หลังจากมาถึงเกาะแห่งหนึ่ง เขาได้ยินเสียงอันไพเราะอ่านอัลกุรอาน จากเสียงอ่านอัลกุรอาน ดังกล่าว เขาพบว่าเป็นเสียงของหญิงสาวที่ชื่อว่าซีตี ซูไบดะห์  ซึ่งเป็นบุตรสาวของผู้นำทางศาสนาอิสลามบนเกาะดังกล่าว ต่อมาหนุ่มไซนัล อาบีดิน ก็ได้แต่งงานกับซีตี ซูไบดะห์  และทั้งสองก็ตัดสินใจกลับไปยังราชอาณาจักร Kembayat Negara และในระหว่างทางกลับนั้น หนุ่มไซนัล อาบีดิน ก็ได้ช่วยกษัตริย์แห่งเยเมนเพื่อขับไล่การโจมตีของศัตรู และเขาได้รับบุตรสาวของกษัตริย์เยเมนที่ชื่อว่า ซาจาระห์ (Sajarah) มาเป็นภรรยาอีกคน และหนุ่มไซนัล อาบีดิน พร้อมบรรดาภรรยา ก็เดินทางกลับราชอาณาจักร Kembayat Negara

ต่อมาเมื่อกองทัพจีนโจมตีราชอาณาจักร Kembayat Negara ทางไซนัล อาบีดิน และซาจาระห์ ก็ถูกกองทัพจีนจับกุม ส่วนซีตีซูไบดะห์ ซึ่งกำลังตั้งครรภ์สามารถหลบหนีเข้าไปในป่า เมื่อคลอดบุตรในป่าแล้ว เธอก็ทิ้งลูกไว้ให้น้องสาวดูแล แล้วซีตี ซูไบดะห์ ก็เข้าร่วมกับเจ้าหญิงรูเกียะห์ (Putri Rukiah) จากยูนาน ซึ่งถูกเนรเทศออกจากราชอาณาจักรของเธอโดยผู้รุกราน ทั้งสองฝึกฝนศิลปะการต่อสู้ โดยการปลอมตัวเป็นผู้ชาย และทั้งสองสามารถกอบกู้ยูนนานได้ เมื่อสำเร็จแล้ว เพื่อเป็นการตอบแทนกัน ทางเจ้าหญิงรูเกียะห์ ตกลงที่จะช่วยซีตี ซูไบดะห์ในการทำสงครามกับจีน

ด้วยกำลังของยูนนานและพันธมิตร ทางซีซูไบดะห์ ซึ่งยังคงปลอมตัวเป็นผู้ชายสามารถพิชิตจีนได้  และทางไซนัล อาบีดิน และซาจาระห์ ก็ได้รับการปล่อยตัว ในขณะเดียวกัน จักรพรรดินีจีนและบรรดาบุตรสาวก็ถูกจับกุม และทั้งสองก็เปลี่ยนมานับถือศาสนาอิสลาม   หลังจากนั้นไซนัล อาบีดิน ก็แต่งงานกับจักรพรรดินีจีน และแต่งงานกับเจ้าหญิงรูเกียะห์ด้วย ต่อมาซุไบดะห์ก็ถอดชุดปลอมตัวออก และกลับมาอยู่เคียงข้างสามี กลายเป็นราชินีแห่งราชอาณาจักร Kembayat Negara

 

ดร. Liaw Yock Fang นักประวัติศาสตร์วรรณกรรมจีน-มลายุ ได้กล่าวว่า ต้นฉบับที่เก่าแก่ที่สุดของบทกวีโบราณซีตีซุไบดะห์ มีอายุย้อนไปถึงปี 1840 (ฮิจเราะห์ศักราช 1256 ) ต้นฉบับหมายเลข MS 37083 ถูกเก็บไว้ที่ห้องสมุด ของ SOAS (School of Oriental and African Studies, University of London) ในกรุงลอนดอน ประเทศอังกฤษ มีต้นฉบับที่ยังหลงเหลืออยู่หลายฉบับ ในขณะนั้น บทกวีนี้ได้รับความนิยมในการพิมพ์ โดยเฉพาะอย่างยิ่งในสิงคโปร์ บอมเบย์ (อินเดีย) และไคโร

โครงเรื่องของบทกวีโบราณซีตี ซูไบดะห์ เป็นโครงเรื่องทั่วไปในวรรณกรรมมลายูและชวาในขณะนั้น เป็นเรื่องราวของผู้หญิงที่ปรากฏตัวเป็นผู้ชายเพื่อทำสงคราม นอกจากบทกวีตี ซูไบดะห์ ยังมีบทกวีอิเหนา หรือ Pandji ของชวา รวมทั้งบทกวีมลายูอื่นๆ ได้แก่ บทกวี Panji Semirang, บทกวี Jauhar Manikam และ บทกวี Syair Abdul Muluk

 

Monique Zaini-Lajoubert นักวิชาการวรรณกรรมชาวฝรั่งเศสกล่าวว่าเนื่องจากบทกวีของ ซีตี ซูไบดะห์ ไม่ระบุวันที่เขียน จึงเป็นไปไม่ได้ที่จะระบุได้ว่าข้อใดเขียนขึ้นก่อน อย่างไรก็ตาม ดร. Liaw Yock Fang นักประวัติศาสตร์วรรณกรรมมลายู-จีนตั้งข้อสังเกตว่า บทกวีอับดุลมูลุก หรือ Syair Abdoel Moeloek ได้รับการตีพิมพ์ในปี 1847 ประมาณ  7 ปีหลังจากต้นฉบับของ บทกวีของ ซีตี ซูไบดะห์

ดร. Siti Hawa Salleh นักวิชาการด้านวรรณกรรมชาวมลายูเขียนว่าบทกวีซีตีซูไบดะห์ กับสงครามจีน เป็นหนึ่งในเรื่องราววรรณกรรมมลายูไม่กี่เรื่องที่รวมเอาองค์ประกอบจากอิทธิพลของอินเดียและตะวันออกกลาง เทียบได้กับ Syair Bidasari และ Syair Dandan Setia

 

ดร. G. Koster นักวิชาการด้านวรรณกรรมมลายู ซึ่งได้รับปริญญาเอกด้านวรรณกรรมมลายู จากมหาวิทยาลัยไลเด็น เนเธอร์แลนก์  ก็มีมุมมองคล้ายกัน โดยกล่าวว่า Syair Siti Zubaidah และ Syair Abdul Muluk ควรได้รับการพิจารณาว่าเป็น "เรื่องราวของอิเหนา หรือ Pandji ที่ได้รับการเปลี่ยนมานับถือศาสนาอิสลาม" ในบทกวีนี้ ซีตี ซูไบดะห์ เน้นย้ำความภักดีต่อสามีและพระเจ้าของเธอ โดยละทิ้งหน้าที่ในฐานะแม่เพื่อดำเนินสงครามต่อไป ส่วนนักวิชาการด้านวรรณกรรมมาเลเซีย ดร. Barbara Watson Andaya ภรรยาของ ดร. Leonard Andaya (อดีตอาจารย์สาขาประวัติศาสตร์ มหาวิทยาลัยมาลายา) กล่าวว่า "ความสัตย์ซื่อ ความกตัญญู และการยอมจำนนต่อโชคชะตา แม้ว่าสามีจะนอกใจก็ตาม ทำให้ซีตีซูไบดะห์ มีสถานะเป็นจักรพรรดินี"

นักเขียนที่ชื่อว่า Abdul Mutalib กล่าวว่าบทกวีเรื่องซีตี ซูไบดะห์ อาจมีพื้นฐานมาจากเหตุการณ์ที่เกิดขึ้นจริงทางประวัติศาสตร์ นักวิชาการชาวมาเลเซียบางคนกล่าวว่า Kembayat Negara เป็นตัวแทนของอาณาจักรจัมปา ซึ่งปัจจุบันอยู่ทางตอนใต้ของเวียดนาม แต่ ดร. Liaw Yock Fang   ไม่เห็นด้วยกับความคิดนี้

 

สิ่งพิมพ์

ได้มีการพิมพ์ฉบับอักขระรูมีในปี 1983 ส่วนนายอับดุลราหมาน อัล-อาหมัดดี ก็ได้เขีนอีกฉบับ พิมพ์ในปี 1994 การพิมพ์ส่วนใหญ่จะอิงเอกสารต้นฉบับ ML 727  ที่เก็บไว้ที่หอสมุดแห่งชาติของสาธารณรัฐอินโดเนเซีย และเอกสารต้นฉบับMSS 25 ที่เก็บไว้ที่หอสมุดแห่งชาติมาเลเซีย

ภาพยนตร์จากบทกวีซีตี ซูไบดะห์

มีการสร้างภาพยนต์ขาวดำจากเรื่องราวของเนื้อหาบทกวีซีตี ซูไบดะห์ในปี 1961 มีนักแสดงหลายคน เช่น Nordin Ahmad, Dato' Maria Menado, Sarawak Snail, M. Amin, Rose Yatimah และอีกมากมาย

 

อ้างอิง

Buku Syair Siti zubaidah, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, RI, 1997.

https://eap.bl.uk/archive-file/EAP609-2-4 

https://ms.wikipedia.org/wiki/Filem_Siti_Zubaidah

https://id.wikipedia.org/wiki/Syair_Siti_Zubaidah_Perang_Cina

https://ms.wikipedia.org/wiki/Syair_Siti_Zubaidah_Perang_Cina