Khamis, 22 April 2010

Bangsa Melayu Diserukan Terus Bersatu

จาก หนังสือพิมพ์อาเจะห์ ชื่อ Serambi Indonesia
www.serambinews.com Thursday April 8th 2010

Seminar Pendidikan Melayu di Malaysia 2
ASNAWI KUMAR

Bangsa Melayu Diserukan Terus Bersatu
Mantan PM Malaysia, Mahathir Mohamad (kedua dari kiri), sosok pemimpin yang teguh memperjuangkan eksistensi dan martabat etnis Melayu di dunia internasional

SESUNGGUHNYA apa yang disebut orang Melayu, bukanlah suatu komunitas etnik atau sukubangsa sebagaimana dimengerti banyak orang dewasa ini. Sebab, ia lebih mirip dengan bangsa atau kumpulan etnik-etnik serumpun yang saat ini tinggal di berbagai kawasan negara di dunia, yang sekarang menggunakan bahasa yang sama yaitu bahasa Melayu dan menganut agama yang sama yakni agama Islam.

Sejarawan Melayu, Nik Abdul Rakib bin Nik Hassan, yang sekarang menjabat sebagai Ketua Jurusan Pengajian Melayu di Faculty of Humanities and Social Sciences Prince of Songkla University, Pattani, Thailand Selatan, mengatakan istilah Melayu sebagaimana diartikan dan dipahami oleh UNESCO pada 1972 silam adalah satu suku bangsa yang mendiami beberapa negara, seperti Malaysia, Thailand, Indonesia, Filipina, Madagaskar, Suriname, dan Afrika Selatan.

Dalam makalahnya berjudul “Pendidikan Teras Bangsa Diperkasa” yang dipaparkan dalam forum Seminar Pendidikan Melayu Antarbangsa (Sepma) 2010 yang berlangsung di Universiti Malaysia Perlis (Unimap), Perlis, Malaysia, pada 29-31 Maret lalu, mengatakan bahwa pengertian tersebut sampai sekarang dipahami secara berbeda oleh negara-negara serumpun.

Di Malaysia, misalnya, istilah Melayu menurut lembaga-lembaga resmi setempat hanya merujuk kepada orang-orang keturunan Melayu yang menganut agama Islam. Atau dengan kata lain, bukan semua orang yang nenek moyangnya berasal dari keturunan Melayu digolongkan sebagai orang Melayu. “Sedangkan di Indonesia, Melayu adalah salah satu suku yang mendiami Pulau Sumatera,” kata Nik Abdul Rakib.

Istilah Melayu di Thailand, katanya, lain lagi. Di negara yang berbatasan langsung dengan semenanjung Malaysia itu, yang dimaksud Melayu adalah salah satu suku yang bertutur kata dalam bahasa Melayu dan menganut kebudayaan Melayu. “Tapi, sebaliknya jika orang Melayu itu sudah berasimilasi dengan menggunakan bahasa Thai, maka mereka disebut Thai Muslim,” ujarnya.

Menurutnya, istilah Melayu yang merujuk pada nama bangsa atau bahasa, mengalami perkembangan baru setelah adanya Kesultanan Melayu Malaka, di mana kemudian dalamnya melebur pula penduduk keturunan asing seperti Arab, Persia, Cina dan India, di samping keturunan dari etnik Nusantara lain. “Semua itu dapat terjadi karena selain mereka hidup lama bersama orang Melayu, karena juga memeluk agama yang sama serta menggunakan bahasa Melayu dalam penuturan sehari-hari,” katanya.

Hal itulah kemudian yang menyebabkan orang Melayu memiliki keunikan tersendiri dibanding misalnya orang Jawa atau Sunda. Etnik-etnik serumpun lain pada umumnya menempati suatu daerah tertentu. Tapi orang Melayu tidak, mereka tinggal di beberapa wilayah terpisah, bahkan di antaranya saling berjauhan. “Namun di mana pun berada, bahasa dan agama mereka sama, Melayu dan Islam. Adat istiadat mereka juga relatif sama, karena didasarkan atas asas agama dan budaya yang sama,” kata Nik Abdul Rakib.

Karena itu, tambahnya, tidak mengherankan apabila Kemelayuan identik dengan Islam, dan kesusastraan Melayu identik pula dengan kesusastraan Islam. Bagi mereka yang tidak mengetahui latar belakang sejarahnya fenomena ini tidak mudah dipahami. “Untuk itu uraian tentang sejarahnya sangat diperlukan,” pungkasnya.

Arus globalisasi
Merujuk pada pernyataan Ketua Menteri Malaka yang juga Presiden Dunia Melayu Dunia Islam (DMDI), Dato’ Sri Mohamad Ali bin Rustam, yang disampaikan sebelumnya di forum Sepma 2010 itu, di tengah kondisi etnis rumpun Melayu yang tinggal di negara yang berbeda-beda tersebut, maka masyarakat Melayu di setiap negara perlu mencari “rakan kongsi” bangsa serumpun untuk menjaga dan melestarikan budaya Melayu dari derasnya arus globalisasi.

Hadirnya DMDI di berbagai negara serumpun termasuk Indonesia, diharapkan menjadi benteng yang kokoh bagia upaya menjaga dan merawat kelestarian bahasa dan budaya Melayu. Lembaga yang pucuk pimpinannya dijabat secara bergilir antarsesama negara anggota itu, diharapkan pula terus mengkaji dan mengembangkan ragam keunikan budaya Melayu agar budaya yang bersendikan ajaran Islam ini tetap awet dan relevan sepanjang masa.

Konsep paling efektif dan efisien untuk terus membumikan bahasa dan dan budaya Melayu, yang sekarang ini dipakai dan dianut oleh lebih dari 250 juta orang di dunia itu, adalah lewat dunia pendidikan di masing-masing negara serumpun. “Konsep ini sudah dipraktikkan oleh sejumlah negara serumpun sejak beberapa tahun terakhir dan telah memperlihatkan hasil yang cukup menggembirakan,” kata Dato’ Sri Mohamad Ali.

Di Malaysia, misalnya, sejak masa pemerintahan PM Mahathir Mohamad, ada satu konstitusi yang memberikan keistimewaan bagi orang Melayu dalam setiap urusan pelayanan publik. Guna menjalankan amanat konstitusi tersebut, Yang Dipertuan Agong selaku kepala negara diserahi pula tanggung jawab untuk menjaga kedudukan istimewa orang Melayu tersebut sebagai penduduk pribumi.

Sampai saat ini, harus diakui bahwa Malaysia telah memainkan peran penting dalam upaya mencerdaskan anak-anak bangsa serumpun dari etnis Melayu. Beberapa perguruan tinggi di Malaysia, kini terbuka pula untuk mahasiswa dari berbagai alam Melayu lainnya seperti Thailand, Filipina, dan Indonesia termasuk Aceh. “Bahkan, khusus Indonesia, tidak kurang dari 14.000 mahasiswanya, kini menuntut ilmu di berbagai perguran tinggi yang ada di Malaysia,” kata Dato’ Sri Mohamad Ali.

Perkembangan menggembirakan terkait dengan upaya menjaga kelestarian budaya Melayu itu, antara lain dilaporkan juga terjadi di Indonesia, Brunei Darussalam, Singapura, Thailand, Filipina, Kamboja, Vietnam, Srilanka, Afrika Selatan, Arab Saudi, bahkan sejumlah kawasan di daratan Eropa.

“Di samping memasukkan dalam kurikulum berbagai jenjang pendidikan, di negara-negara tersebut kini juga telah berdiri lembaga pendidikan yang khusus mempelajari tentang bahasan dan khazanah budaya Melayu lainnya,” kata Presiden DMDI itu mengakhiri sambutannya dengan menyerukan agar bangsa etnis rumpun Melayu terus bersatu.

(asnawi kumar)



Tiada ulasan: