Ahad, 30 Jun 2019

Pertemuan Penyair Nusantara ke XI (PPN XI) di Kudus

Oleh Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan
     Pertemuan Penyair Nusantara kali pertama diadakan di Kota Medan, Indonesia dan Pertemuan Penyair Nusantara bergilir gilir dari Indonesia ke Malaysia, Brunei, Singapura dan Thailand. Kemudian Pertemuan Penyair Nusantara ke XI kembali ke Indonesia sekali lagi.

Dari : Kompasiana.
PPN atau Pertemuan Penyair Nusantara adalah forum tahunan yang lahir dari Pertemuan Penyair Indonesia The 1st International Poets Gathering di Medan pada tahun 2007 dan diadakan secara bergilir di Negara-negara peserta.

Event PPN XI yang akan diadakan di Kudus, Jawa Tengah  pada tanggal 28-30 Juni 2019 ini, akan melibatkan ratusan penyair dari Indonesia, Malaysia, Singapura, Brunai Darussalam, dan  Thailand . Dengan rincian 46 penyair dari Jawa Tengah, 32 penyair Nasional, 6 penyair dari Malaysia, 7 penyair dari Singapura, 6 penyair dari Thailand dan 4 penyair dari Brunai Darussalam.

Perlehatan Pertemuan Penyair Nusantara akbar ini sudah diawali sejak bulan oktober 2018 pada saat  menjaring penyair yang akan terlibat dengan acara ini, mulai dari pengumpulan puisi sampai tahap kurasi puisi oleh para kurator yang handal. Peserta dari PPN XI ini adalah para penyair yang puisinya lolos dari meja kurasi. Selain para penyair yang lolos pusinya, perlehatan akan dihadiri oleh para peninjau dari Negara Malaysia dan sejumlah tokoh sastra Indonesia.
Adapun kurator yang berjumlah 10 orang, yakni Ahmadun Yosi Herfanda, Kurnia Effendi, dan Chavchay Syaifullah ( kurator nasional), Mukti Sutarman Espe, Sosiawan Leak dan Jumari Hs ( kurator Jateng ), Mohamad Saleeh Rahamad ( kurator Malaysia), Djamal Tukimin (kurator Singapura), Mahroso Doloh ( kurator Thailand), dan Zefri Ariff ( kurator Brunai Darussalam).

Perlehatan  PPN XI  kali ini mengusung tema "Puisi untuk Persaudaraan dan Kemanusiaan". Menurut Mukti Sutarman Espe sebagai ketua panitia Penyelanggara PPN XI.
" Pertemuan Penyair Nusantara tidak hanya menjadi peristiwa sastra, atau peristiwa budaya rutin tahunan, tapi juga bertujuan untuk menjalin komunikasi antar penyair Nusantara, guna membahas perkembangan sastra dan kebudayaan Nusantara, membuat antologi puisi bersama serta membaca sajak di atas panggung yang sama. Mengusung tema 'Puisi untuk Persaudaraan dan Kemanusian, kami sebagai penyair Kudus sangat bangga Kudus dipercaya menjadi penyelenggara PPN XI tahun ini. Kami harap, acara yang juga didukung oleh Bakti Budaya Djarum Foundation ini dapat memberikan dampak positif bagi para penyair Kudus, serta menghidupkan kembali perkembangan sastra di kalangan masyarakat Kudus".

Bakti Budaya Djarum Foundation berkomitmen untuk terus mendukung perkembangan sastra Indonesia melalui berbagai kegiatan, seperti bekerja sama dengan Yayasan Lontar dalam meluncurkan seri buku ' Modern Library of Indonesia', dan juga mendukung acara tahunan penghargaan kesusastraan Indonesia.

Seperti ' Kusala Sastra Khatulistiwa Award' dan Penghargaan Sastra Litera. Sebagai upaya mengangkat karya Sastra Indonesia ke panggung seni pertunjukan, beberapa yang pernah ditampilkan seperti ' Bunga Penutup Abad', ' Perempuan-Perempuan Chairil' dan yang terbaru dan akan segera digelar adalah ' I La Galigo', sebuah pertunjukan yang diangkat dari Sastra Klasik Bugis.

Pada tahun 2008, Kudus pernah sukses menggelar Kongres sastra Indonesia, dan pada tahun ini kami mendukung kegiatan PPN, sebuah event Sastra Internasional dimana Kudus mendapat kehormatan menjadi tuan rumah.
Kami berharap dengan diselenggarakannya PPN tahun ini, dapat memotivasi para penyair muda Kudus dan sekitarnya untuk terus berkarya dan mencintai sastra Indonesia," Ujar  Renitasari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundatioan.

Kehadiran penyair dari berbagai daerah di tanah air dan dari negara-negara tetangga diharapkan bisa menviralkan Kudus yang terkenal sebagai Kota Kretek dan Kota Wali menjadi tujuan wisata yang mengesankan.

Tidak hanya tentang kesenian dan budaya Kudus yang eksotis, melainkan juga aneka ragam kulinernya, yang diharapkan dapat mengajak mereka kembali ke kota ini.

Acara pembukaan PPN XI berlangsung di Hotel Gripta Kudus, dimeriahkan oleh kesenian khas Kudus dari kelompok Terbang Papat Menara, musikalisasi puisi oleh kelompok music Sang Swara, dan pembacaan puisi oleh penyair perwakilan negara-negara peserta.

Pada hari kedua, 29 Juni 2019, panitia menggelar seminar  'Sastra dan Kebubudayaan'  dengan menampilkan enam pembicara, yakni Mamam S, Mahayana (Indonesia), Dr. Moh. Saleeh Rahamad (Malaysia), Prof. Zefri Arif ( Brunai Darussalam), Dr. Rakib Bin Nik Hasan ( Thailand), Djamal Tukiman, MA ( Singapura), dan Dr. Tirto Suwondo, M. Hum. (Balai Bahasa Jawa Tengah, Indonesia).

Seminar yang dimoderatori oleh Sihar Ramses Simatupang ini, diharapkan dapat memberikan wawasan baru tentang perkembangan Sastra dan Budaya Nusantara dan membahas isu-isu terkini tentang sastra dan kebudayaan.

Acara dilanjutkan dengan bedah buku antologi berjudul 'Sesapa Mesra Selinting Cinta'  yang berisi karya-karya penyair yang lolos kurasi. Pembicara dalam bedah buku ini adalah Prof. Suminto A. Sayuti yang akan membawakan makalah berjudul " Puisi sebagai Sarana Tegur Sapa Budaya ". Acara akan dimoderatori oleh Dr. Mohammad Kanzunuddin, M. Pd.

Kegiatan PPN XI hari kedua dengan workshop pembacaan puisi yang disampaikan oleh Sosiawan Leak dengan moderator Jimat Kalimasadha.

Peserta workshop ini adalah guru Bahasa Indonesia perwakilan dari SMP, Mts, SMA, MA, dan SMK se-Kabupaten Kudus.

Di hari yang sama, akan berlangsung kegiatan utama yaitu Panggung Penyair Asean. Para penyair akan unjuk kebolehan di atas ' Panggung Penyair Asean' yang digelar di pelataran timur Menara Kudus.

Presiden Penyair Indonesia, Sutardji Calzoum Bachri, bersama Kyai Mustofa Bisri ( Gus Mus), D. Zawawi Imron, Thomas Budi Santoso, dan Sosiawan Leak ikut memeriahkan panggung tersebut.

Selain itu, sejumlah penyair dari Malaysia, Singapura, Thailand, Brunai Darussalam, dan penyair dari berbagai daerah di Indonesia, antara lain Emy Suy, Fikar W. Eda, Taufiq Ikram, Didid Endro, Rini Intama, Warih Wisatsana, Imam Maarif juga terlibat di panggung yang sama.

Pada hari terakhir, peserta akan melakukan wisata budaya ke Menara Kudus untuk berziarah ke makam Sunan Kudus dan melihat dari dekat Menara Kudus yang merupakan situs sejarah simbol akulturasi budaya Hindu dan Islam, simbol toleransi umat beragama, simbol semangat persaudaraan yang dibawa oleh Sunan Kudus, Sayyid Ja'far Shadiq Azmatkhan.

Wisata budaya dilanjutkan dengan mengunjungi Museum Jenang atau yang juga dikenal dengan sebutan Gusjigang X-Building. Di museum tersebut, pengunjung dapat menyaksikan proses pembuatan jenang Kudus, miniature Kudus, dan sejarah Kudus. Secara umum, museum ini memperlihatkan Kudus dan sejarahnya, serta aktivitas perekonomian Kudus


pada masa lampau hingga sekarang.

Penutupan PPN XI dilaksanakan di Museum Kretek Kudus sebagai tempat terakhir rangkaian wisata budaya.

Selama berlangsungnya acara PPN XI di Kudus para peserta akan disuguhi makanan-makanan khas Kudus yang hanya ada di kota Kudus.  Seperti soto kerbau, sate kerbau, lontong tahu, nasi pindang, lenthok tanjung, dan tak lupa mencicipi jenang Kudus. Serta menginap di Hotel Gripta Kudus.

Tiada ulasan: