Rabu, 28 Disember 2016

Keberadaan Orang Melayu Di Sulawesi Selatan Pada Peringkat Awal (Bahagian 2)

Oleh Nik Abdul Rakib Bin Nik Hassan
     Artikel akademi bertajuk "Keberadaan Orang Melayu Di Sulawesi Selatan Pada Peringkat Awal" ini dibahagikan kepada 2 bahagian. Dan kali ini adalah bahagian ke 2. Artikel akademi ini di tulis oleh Dr. Muhlis Hadrawi, seorang pensyarah di Universiti Hasanuddin, Sulawesi Selatan. Inilah isi kandungan bahagian 2 :- 
             Dr. Muhlis  Hadrawi
D.Gowa-Tallo Sebagai Petempatan Penting Orang Melayu  Perkembangan  kerajaan Gowa-Tallo dengan kekuatan tentara maritim yang handal menjadi bahagian penting wujudnya bandar dan  pelabuhan niaga dalam pertengahan abad ke-16. Kedatangan bangsa Eropah ke timur Nusantara dalam rangka pencarian rempah-rempah dengan melalui jalur tengah yang ditemukan oleh orang Parsi, sehingga  Gowa menjadi laluan potensial dan pangkalan niaga antara Malaka dan Maluku. 

Kejatuhan Melaka ke tangan Portugis menjadikan perjalanan Portugis mencapai pulau rempah Maluku semakin lancar. Situasi yang ada menjadi kesempatan bagi Gowa memanfatkan peluang perdagangan tersebut dengan menjalin hubungan dagang dan persahabatan dengan Portugis.


Hubungan dan integrasi yang lebih awal sebenarnya telah berlaku antara orang Melayu dengan Raja Gowa ke-7 bernama Batara Gowa yang mengawini seorang putri Melayu bernama I Rerasi. I Rerasi diidentifikasi sebagai putri daripada seorang Melayu yang berprofesi sebagai pedagang kapur di Sulawesi Selatan. Hasil perkahwinan inilah yang kemudian melahirkan putranya bernama I Pakkere’tau Karaeng Tunijallo, raja Gowa ke-8. Raja Gowa ini tidak lama memerintah karena disebut mati terbunuh, sehingga dia digantikan oleh saudara tirinya bernama Karaeng Tumaparrisi Kallonna. 

Perkahwinan Batara Gowa tersebut  menunjukkan salasilah orang Melayu sudah tercampur dengan darah bangsawan Makassar, memberikan makna integrasi sosial-politik  antara orang Melayu dengan bangsawan telah berlaku sejak awal.
Penaklukan kerajaan-kerajaan Makassar dan Bugis yang dilakukan oleh Gowa merupakan rangkaian daripada agenda untuk memegang hegemoni di Sulawesi Selatan. 

Kerajaan Siang dan Suppa’ yang lebih awal menjadi kota pelabuhan dan perdagangan maritim, tak luput daripada sasaran Gowa yang dilakukan oleh Karaeng Tumaparrisi’ Kallonna (1510-1546). Keduanya pun ditaklukkan dan dijadikan sebagai kerajaan bawahan (palili). Namun hal yang patut diketahui bahawa Suppa’ dan Siang tidak diperkenankan memiliki ruang untuk menjadi kota pelabuhan dan perdagangan. Kebijakan Raja Gowa adalah memusatkan perdagangan dan perniagaan antarpulau di pelabuhan kota Sombaopu. Penaklukan Siang dan kerajaan lainnya tercatat dalam naskhah lontara sebagai berikut.

Transliterasi:
Pannessaéngngi bilanna wanuwa nabétaé Karaéngngé ri Gowa riyasengngé Tomaparrisi’ Kallonna/ mula-mulanna Garessi’/ maduwana Kantingang/ matelluna Parigi/ maeppana Siyang/ malimana Sidenreng Manai’/ maennenna Lembanga/  mapitunna nalai sebbukkatinna Bulukumba/ maruwana Silaja /maserana betai Pannaikang/  maseppulona Madello/ maseppulona seddi Céppaga/ maseppulona duwana sialu’ adai to Maru’é to Polomabangkengngé.
(Sumber ARSIP Rol 30 no. 16.hlm. 96)

Terjemahan:
Yang mengisahkan jumlah negeri yang ditaklukkan Raja Gowa bernama Karaeng Tomaparrisi’ Kallonna/ pertama Garessi’/ kedua Kantingang/ ketiga Parigi/ keempat Siang/ kelima Sidenreng Manai’/ keenam Lembang/  ketujuh merebut pusaka Bulukumba/ kedelapan Selayar/ Sembilan Pannaikang/  sepuluh Madello/ sebelas Céppaga/ dua belas berdamai dengan orang Maros dan Polombangkeng.

Kerajaan Siang (Siyang) adalah salah satu dari kerajaan yang direbut oleh Tumaparrisi’ Kallonna bersama-sama dengan 11 (sebelas) kerajaan tempatan  lainnya. Orang-orang Melayu yang bertempatan di Siang dikerahkan oleh Raja Gowa menuju Sombaopu sebagai maksud menyokong pengelolaan pelabuhan dan kegiatan perdagangan di Sombaopu. 

Hal itu dipertegas oleh misionaris Portugis bernama Pinto ketika berkunjung di Makassar pada tahun 1544. Pinto sudah menjumpai banyak pedagang Islam daripada Johor, Pattani, dan Pahang.  Pedagang Melayu selalu memperoleh keamanan yang baik, sehingga meskipun kerapkali terjadi perang  antara Gowa  (Kareng Tunipallangga) dengan Bone (La Tenrirawé Bongkangngé), namun orang-orang Melayu  Pahang, Patani, Johor, Campa, Minangkabau, Jawa tetap tidak terpengaruh keberadaannya di Makassar.

Pertengahan abad XVI masa raja Gowa ke-10, Tunipallangga (1546-1565), orang-orang Melayu  semakin ramai berhijrah ke Makassar. Manuskrip  (ANRI Rol 30 no. 16 hlm 98-99) mengisahkan Raja ini yang memulakan pemisahan pejabat Syahbandar (Mks.: Sabennara) dan pejabat Urusan Pemerintahan Dalam Negeri bernama dipanggil Tomarilaleng (Mks.: Tumailalang). 

Oleh kerana itu Daeng Pamatte hanyalah menjabat sebagai Tomarilaleng, sementara jabatan Syahbandar diberikan kepada orang Melayu, Daeng Majalengka. Pada tahun 1548 salah seorang tokoh Melayu yang bernama Nakhoda Bonang (Bugis: Anakoda Bonang) datang sebagai pimpinan sebilangan orang Melayu yang kemudian melakukan perjanjian dengan Raja Gowa untuk petempatan di wilayah Gowa. Teks manuskrip dikutip sebagai berikut.

Transliterasi
P.98…Yitona  naillauwi onrong  Jawa riasengngé Anakoda Bonang/  Nayi anu natiwiq-é  ri Karaéngngé  rinaéllaunna ttudang  komaiyé kuwaéna Kamalété sikaju,  sibatu  Bélo, aruwa pulona jujungenna Kasala,  sikaju Biludu, Cindé Sabbé sitengnga kodi/
Makkedai Anakoda Bonang ri Karaénta Tunipallangga: “Eppaq-I rupanna uwéllau-llau ridiq”.   Makkedai Karaéngngé: “Agana kuwaé muillau?”  Makkedai Anakoda Bonang: “Uwillau-llaui tenri  uttamaiyyé ri laleng sappommeng, tenri énrekiyé bolammeng, tenri gau’ bawangngé, narékko engka anammeng   tenri salosoi ko engka appasalammeng/ 
(Sumber: Naskhah Koleksi  ANRI Rol 30. No. 16)

Terjemahan:
p. 98…Kepadanyalah meminta tempat oleh orang Jawa bernama Anakoda Bonang/ Adapun benda persembahan kepada Karaeng atas permintaannya itu adalah satu bedil (kamalete), sebiji permata, delapan puluh lembar kain kasa, selembar beludru, kain cinde sutra setengah kodi/
Berkata Nakhoda Bonang pada Karaeng Tunipallangga: ada empat hal yang kami minta kepada Tuan/ Menjawab Karaeng: “Apa gerangan kau minta?”  Aku meminta:  tidak dimasuki pagar kami,  tidak dinaiki rumah kami, tidak sembarang kami diperlakukan, jika orang kami bersalah tidak langsung disanksi secara sepihak/  Karaeng menerima permintaan tersebut/…

Teks  di atas berupa hukum atau kontrak sosial-politik antara Raja Gowa Tunipallangga dengan orang-orang Melayu yang diwakili oleh Nakhoda Bonang dalam hal pertempatan ke atas  tanah  kekuasaan Gowa.  Melalui kontrak tersebut, orang Melayu yang terdiri atas  pedagang dan pemuka Islam diberikan tempat kediaman di kampung Mangallekana yang berlokasi di dekat Benteng Sombaopu.  Orang Melayu mendapat hak-hak istimewa, termasuk hak hukum teritori petempatan. Keunggulan hak orang Melayu tidak terlepas daripada peranan  Nakhoda Bonang, yang tak lain adalah Sunang Bonang, salah seorang daripada Walisongo di Jawa. Sunan Bonang diutus oleh Demak melalui kerjasama Johor/Melaka membawa rombongan orang-orang Melayu untuk mendapatkan jaminan petempatan di tanah kerajaan Gowa. 

Para pedagang Melayu yang tergabung dalam kumpulan pimpinan Nakhoda Bonang ialah orang Pahang, orang Patani, orang Campa (Champ), orang Minangkabau dan orang Johor. Di dalam rombongan itu terdapat kalangan santri yang membawa tugas pengislaman di Sulawesi Selatan.

Dipastikan  bahwa agama Islam sudah dibawa oleh orang-orang Melayu dibawa komando Sunang Bonang ke Sulawesi Selatan. Bukti tersebut didukung fakta pendirian masjid di Mangallekana oleh Raja Gowa Tunijallo (1565-1590) bagi warga muslim. Pada  masa abad ke-16 ini agama Islam sudah diterima secara terbatas oleh pihak-pihak tertentu di Sulawesi Selatan, namun belum menjadi agama rasmi dianut oleh raja-raja yang memerintah. Pada masa yang sama disebutkan agama kristen juga sudah masuk, namun maklumat  dan perilaku Portugis terhadap orang Melayu yang kurang menyenangkan sehingga tidak mendapat tempat yang luas di masyarakat Bugis-Makassar. 

Peristiwa pelarian  puteri Raja Suppa’ oleh kapal Portugis, menjadi noda hitam bagi Portugis di mata orang Bugis dan Makassar sehingga masa depan misi kristenisasinya  pun menemui kegagalan.
Keberadaan orang-orang Melayu di Makassar lebih istimewa kerana adanya konsensus politik   perihal peraturan petempatan yang diberikan bagi orang-orang Melayu  yang berguna bagi perlindungan dan hak-haknya di atas tanah kerajaan Gowa dan Tallo. Ada empat hak otonomi atas teritori orang Melayu yang diperoleh atas petempatannya iaitu:

1.Tidak boleh dimasuki pagar/pekarangan rumahnya tanpa izin.
2.Tidak boleh dinaiki rumahnya tanpa izin.
3.Tidak boleh diperlakukan secara semena-mena.
4.Jika bersalah tidak serta-merta diberi sanksi secara sepihak.

Kondisi sosial yang baik yang diterima orang-orang Melayu sehingga mereka berjaya melakukan integrasi dengan masyarakat luas dan lingkungan istana kerajaan. Sejak orang Melayu menetap di Makassar, banyak di antara mereka berjaya meraih jabatan tinggi  di briokrasi kerajaan Gowa-Tallo. Jabatan khas yang dicapai oleh orang-orang Melayu  sama ada sebagai Syahbandar, Juru tulis, dan Penasihat Raja. 

Jabatan Syahbandar kerajaan Gowa  menjadi sebagai sejarah kecemerlangan mengenai peranan orang-orang Melayu sepanjang masa.  Orang-orang Melayu secara berterusan yang menjabat Syahbandar dari awal hingga terakhir. Nama tokoh I Mangambari Kare Mangaweang adalah tokoh dari kalangan orang Melayu yang  masyhur sebagai pejabat syahbandar. 

Selain daripada itu, nama Amanna Gappa juga dikenal syahbandar penting kerana berjaya menyusun kembali hukum pelayaran bagi orang Bugis-Makassar. Jabatan Kepabeanan di Makassar setelah  Kare Mangaweang pada abad XVI berterusan diwarisi oleh orang Melayu sehingga Encik Husein manakala Perang Makassar meletus pada tahun 1666.

Hukum Kanun Pelayaran (Lontara Allopi-loping) yang disusun oleh Amanna Gappa sesungguhnya bagi Reid   merupakan pengaruh daripada hukum pelayaran Melaka yang disusun pada masa akhir kesultanan Melaka, Sultan Mahmud Syah (1488-1511). Reid mengungkapkan bahawa undang-undang laut model Melayu ini berpengaruh  juga dalam hukum kelautan Bugis, yang tertulis pada berbagai naskhah. 

Para anakoda terkemuka yang berbasis di  Melaka telah menyusun undang-undang laut menjadi undang-undang hukum kelautan Melayu yang disusun dengan berdasarkan kebiasaan-kebiasaan lama sejak masa ketika kesultanan Melaka masih kuat.

Orang Melayu mendapat sambutan baik daripada orang Bugis-Makassar di daratan, disamping kerana pengetahuan  dan keunggulannya di bidang perdagangan, penganut agama sekaligus penyebar Islam yang utama, juga kerana kemampuannya melakukan adaptasi sosial yang baik.  Sunderland  mengungkapkan bahawa  orang Melayu  telah memberikan pengaruh signifikan bagi tatanan budaya bagi penduduk Sulawesi Selatan – bahkan meluas sampai ke wilayah timur di Maluku  dan Fiji. 

Orang Melayu memiliki peran yang besar  dalam penyebaran Islam, pembentukan kultur baru berazaskan sendi-sendi Islam, menata tata-tertib berinteraksi, berpakaian, pertemuan adat, menggunakan keris (tatarappang), dan lain-lain. Penyebaran pengaruh orang Melayu yang cepat dan meluas tersebut  karena didukung oleh aktiviti perdagangan, pelayaran niaga. Sehingga pada tahun 1603  atau abad XVII Sulawesi Selatan memasuki babak pengislaman, ulama-ulama Melayu, Datuk Patimang, Datuk Ditiro, Datu Ribandang,  datang dari Minangkabau. 

Berikutnya, tahun  1632 datang pula bangsawan Melayu dari Patani bernama Datuk Maharajalela bersama keluarganya. Datuk Maharajalela kemudian tinggal di Makassar dan menjadi kepala kampung bagi orang-orang Melayu.

E.Kesimpulan
Sebelum agama Islam masuk dan dianut secara rasmi oleh raja-raja Sulawesi Selatan, hubungan timbal-balik antara orang Melayu dan Bugis-Makassar khususnya di bidang perdagangan, pelayaran, dan perniagaan telah terjalin dengan baik. 

Semenjak abad ke-15 orang-orang Melayu yang berprofesi sebagai pedagang telah berlabuh di daratan  kerajaan Suppa, Siang, Bantaeng, dan Selayar  serta-merta membina hubungan dengan penguasa-penguasa lokal. Kerajaan Suppa’, Siang, dan Gowa-Tallo merupakan  destinasi utama dan penting bagi orang-orang Melayu yang datang berdagang dan berhijrah ke Sulawesi Selatan.

Integrasi sosial dan perkahwinan terjalin antara orang-orang Melayu pendatang dengan bangsawan lokal kemudian menciptakan hubungan salasilah keturunan Melayu dan Bugis-Makassar. Istilah sosiologis Bugis-Melayu merupakan wujud daripada integrasi sosial antara orang Bugis-Makassar dan orang Melayu dari hasil permastautinan  sejak telah lama dan berterusan berlaku. 

Perkahwinan Puteri Malaka Wé Tépulingé dengan raja Bacukiki serta perkahwinan I Rérasi puteri seorang Pedagang Melayu dengan Batara Gowa, Raja Gowa ke-7, sebuah fakta yang mengkondisikan hubungan yang lebih mesrah bagi keberadaan orang Melayu di tanah Bugis-Makassar.

Manuskrip Bugis mencatatkan peranan orang Melayu dalam penubuhan kerajaan tempatan Bugis-Makasar, peranan dalam bidang perdagangan, birokrasi, Syahbandar, jurutulis Istana, dan penyebaran agama Islam pada awal abad ke-17 oleh ulama-ulama Melayu. Pada abad ke-17 orang Melayu semakin ramai berkedudukan di Makassar, Mangallekana, Salajo  dan Kampung Melayu sebagai petempatannya utama mereka. 

Mereka terlibat dalam kegiatan perdagangan di Sulawesi Selatan manakala Gowa muncul sebagai kerajaan maritim yang kuat menggantikan Suppa’ dan Siang. Pelabuhan Sombaopu menjadi pelabuhan internasional Gowa dan berada di tepi laluan baharu antara Melaka dan Maluku untuk perdagngan hasil-hasil bumi. 
Situasi pelik berlaku di Sulawesi Selatan manakala meletusnya Perang Makassar  (1666-1669). 

Perang ini  berimpak pada orang Melayu apalagi kerana mereka memilih berkongsi dengan raja Gowa dan melawan Arung Palakka, raja Bugis. Gowa yang dikenali sebagai kerajaan terbesar di kawasan Timur dengan tentara laut yang ditakuti, ternyata dikejutkan oleh perlawanan Arung Palakka yang disokong oleh Hollanda. 

Gowa tak dapat mengelak nasibnya, ia mengalami kekalahan perang daripada Bone. Tepatnya pada tanggal 18 November 1667 perjanjian Bungaya Gowa-Bugis-Hollanda ditandangani sebagai tanda takluknya Gowa. Fakta ekoran peristiwa ini membawa orang-orang Melayu yang telah memihak Gowa ramai meninggalkan Makassar dan menyebar ke pulau-pulau kecil gugusan Kepulauan Spermonde untuk menyelamatkan diri. 

Namun, beberapa waktu kemudian  orang Melayu dijemput datang lagi oleh Arung Palakka untuk menata ulang kehidupannya di kota Makassar. Pada akhirnya orang Melayu mendapat tempat baru di kota Makassar dan memulai kehidupan barunya, menggiatkan kembali aktiviti perdagangan yang memang sudah menjadi tamadun asasnya.
***

DAFTAR PUSTAKA
Abidin, Andi Zainal, 1999. Capita Selecta Sejarah Sulawesi Selatan. Makassar: LEPHAS.

Al-Attas, Syed Muhammad Naguib. 2011. Islam Dalam Sejarah dan Kebudayaan Melayu.

Amal, M. Adnan. 2010. Kepulauan Rempah-Rempah, Perjalanan Sejarah Maluku Utara 1250-1950.  Jakarta: KPG (Kepustakaan Populer Gramedia).

Ammarell, Gene. 1999. Bugis Navigation. Monograph 48. New Haven: Yale Southeast Asia Studies.

Andaya, Leonard Y..1987. Kerajaan Johor 1641-1728, Pembangunan Ekonomi dan Politik. Terjemahan: Shamsuddin Jaafar. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka Kementerian Pendidikan Malaysia.

Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan. Edisi 1978 Januari-Februari TH. 1-4.Ujungpandang: Dicetak CV Usmah Akademis.

Burhanuddin, Jajat. 2012. Ulama dan  Kekuasaan: Pergumulan Elite Muslim Dalam Sejarah Indonesia. Bandung: Mizan.

Chambert-Loir, Henri.2011. Sultan, Pahlawan dan Hakim, Lima Teks Indonesia Lama. Naskah dan Dokumen Lama Seri XXIX. Jakarta: KPG, Ecole Francaise d’Extreme-Orient, MANASSA, Pusat Kajian Islam dan Masyarakat-UIN Jakarta.

Cassirer, Ernst. 1990. Manusia dan Kebudayaan, Sebuah Esei tentang Manusia. Jakarta: Gramedia.

Cence, A.A.1972. Bebrerapa Tjatatan Mengenai Penulisan Sedjarah Makassar-Bugis. Djakarta: Bhratara.

Collins, G.E.P..1992. Makassar Sailing. Singapore: Oxford University Press, Oxford New York.

Danandjaya, James. 1984. Folklor Indonesia. Ilmu Gossip, Dongeng dan Lain-lain. Jakarta: Graffity Press.

de Graft, H.J. 2004. Cina Muslim di Jawa Abad XV dan XVI: Antara Historisitas dan Mitos.  Yogyakarta: Tiara Wacana.
Denisova, Titiana A.2011. Refleksi Historiografi Alam Melayu. Kuala Lumpur: Univresiti Malaya.

Druce, Stephen Charles. 2009. The Lands West of The Lakes: A History of the Ajatappareng Kindoms of South Sulawesi,  1200 to 1600 CE.  Leiden: KITLV Press.

Ghani, Md.Nor bin Hj. Ab. Dkk. 2007. Kamus Dewan Edisi Keempat.Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka.

Gohlich, Ingeborg. 1990. Wo Die Menschen Gern Lachen: Eine Reise Durch Sud-Sulawesi. (Terj.Gairah Hidup di Bumi yang Hijau: Perjalanan Melalui Sulawesi Selatan).  Ujungpandang: Hasanuddin University Press.

Hadrawi, Muhlis. 2008. Assikalaibineng, Kitab Persetubuhan Bugis. Makassar: Ininnawa.

Hashim, Muhammad Yusoff. 1992. The Malay Sultanate of Malacca. Kuala Lumpur: Dewan Bahasa dan Pustaka, Minstry of Education Malaysia.

Hussin, Nordin.2011. Perdagangan dan Peradaban di Laut Melayu. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia

Jannah, Sofyan, H. Drs. Kalender Hijriyah Dan Masehi 150 Tahun 1364 – 1513 H (1945 –2090 M). Yogyakarta: UII Press.

Kennedy, J..1993.  Histiry of Malaya (Third Edition).Kuala Lumpu: S.Abdul Majeed & Co.
KITLV, onder redactie van Harry A.Poeze en Pim Schoorl. 1991. Excusies in Celebes. Leiden-Netherlands: KITLV Uitgeverij.

Kuntowijoyo.2003. Metodologi Sejarah (Edisi Kedua).Yogyakarta: PT.Tiara Wacana Yogya

Mattulada, Prof. Dr. 1982. Menyusuri Jejak Kehadiran Makassar Dalam Sejarah.  Ujung Pandang: Bhakti Baru-Berita Utama.

Miller, George. 2012. Indonesia Timur Tempo Doeloe 1544-1992.Jakarta: Komunitas Bambu.

Ming, Ding Choo. 2009. Pengajian di Alam Melayu, Dari Tradisi Manuskrip ke Maklumat Digital. Bangi: ATMA-UKM.

Ming, Ding Choo. Migration and the Spread of Pantun in Malay Archipelago. Southeast Asia Journal. Vol.21. No.3 (2012). hlm. 217-249.  Center for Southeast Asian Studies. Hankuk University of Foreign Studies.

Ming. Ding Choo. 2009. Manuskrip Melayu Sumber Maklumat Peribumi Melayu. Dipersembahkan sebagai Syarahan Perdana jawatan Profesor Universiti Kebangsaan Malaysia, pada 28 November 2008. Bangi: Penerbit Universiti Kebangsaan Malaysia.

Nomay, Usman. 2010. Orang Melayu di Makassar Abad XVI-XVII. Makassar: Rayhan Intermedia.

Noorduyn, Jacobus. 1955. Een Achttiende-Eeuwse Kroniek Van Wajo. Buginese Historiografie. Gravenhage: N.V. Nederlandse Boek En Staeendrukkerij
Noorduyn, Jacobus. 1972. Islamisasi Makassar. Djakarta: Bhratara.

Nogroho, Irawan Djoko. 2011. Majapahit , Peradaban Maritim KeTika Nusantara  Menjadi Pengendali Pelabuhan Dunia. Jakarta: Yayasan  Sulu Nuswantara Bakti.

Paeni, Mukhlis, dkk. 2003. Katalog Induk Naskah-Naskah Nusantara Sulawesi Selatan.  Jakarta: Proyek Pemasyarakatan dan Desiminasi Kearsipan Nasional, Arsip Nasional Republik Indonesia (ANRI).

Pelras, Christian. 2006. Manusia Bugis. Jakarta: Nalar, Forum Jakarta-Paris Ecole fancaise d’Extreme-Orient.

Putten, Jan van der dan  Mary Kilcline Cody. Lost Times and Untold Tales from the Malay World. Singapura: NUS (National University of Singapore).

Rasyid, Abdul, dkk. 2000. Makassar Sebagai Kota Maritim. Jakarta: Peningkatan Proyek Kesadaran Sejarah Nasional  Direktorat Sejarah Nasional, Direktorat  Sejarah dan Nilai Tradisional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Depatemen Pendidikan Nasional.
Reid, Antony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 1: Tanah di Bawah Angin. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Reid, Antony. 2011. Asia Tenggara Dalam Kurun Niaga 1450-1680. Jilid 2: Jaringan Perdagangan Global. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.

Resink,G.J. 1973. Negara-Negara Pribumi di Kepulauan Timur. DJakarta: Bhratara.
Ricklefs, M.C.2010. Sejarah Indonesia Modern 1200-2008. Jakarta: PT. Serambi Ilmu Semesta.

Robson, S.O. 1978. Pengkajian Sastra-Sastra  Tradisional Indonesia, dalam Bahasa dan Sastra thn. IV Nomor 6. Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

--------, S.O. 1988. Principles of Indonesian  Philology. Dordrecht Providence: Foris Publication.

Sutherland, Heather. 2001. The Makassar Malays: Adaptation and Identity, c.1660-1790. Journal of Southeast Asian Studies, 32,pp 397-421 Oktober 2001. Printed in the United Kingdom. Singapore: NUS.

Sweeney, Amin, et.al.2007. Keindonesiaan dan Kemelayuan Dalam Sastra.  Depok: Desantara.

Vickers, Adrian. 2009. Peradaban Pesisir, Menuju Sejarah Budaya Asia Tenggara. Denpasar: Udayana Univresity Press.

Wan Teh, Wan Hashim dan A. Halim Ali. 1999. Rumpun Melayu Australia Barat.Bangi: Penerbit UKM.


RUJUKAN SUMBER LONTARA (Manuskripts)

Koleksi Lontara Badan ARSIP Nasional Dan Perpustakaan Wilayah Makassar:
1.Naskhah ANRI Rol 30 No. 16
2.Naskah ANRI Rol 50 No. 10

Tiada ulasan: