Jumaat, 27 Februari 2015

Perginya Seorang Tokoh Budayawan Melayu, Pak Tenas Effendy (Tengku Nasaruddin Bin Tengku Said Muhammad Aljuri)

โดย นิอับดุลรากิ๊บ บินนิฮัสซัน
Artikel ini dipetik dari Hang Kafrawi, RiauKepri.com
Perginya seorang Tokoh Budayawan Melayu
Pak Tenas Effendy (Tengku Nasaruddin Bin Tengku Said Muhammad Aljuri ) telah meninggal di Rumah Sakit Umum Daerah, Arifin Ahmad, Pekanbaru, Sabtu (28/2/2015), pukul 00.26 WIB
RiauKepri.com, PEKANBARU – Riau kembali kehilangan tokoh terbaiknya, H. Tenas Effendi telah menghadap Sang Maha Pencipta. Beliau menghembuskan nafas terakhirnya di Rumah Sakit Umum Daerah, Arifin Ahmad, Pekanbaru, Sabtu (28/2/2015), pukul 00.26 WIB.
Perginya seorang Tokoh Budayawan Melayu
RiauKepri.com mendapat berita duka ini melalui BBM Kabiro Humas Provinsi Riau, Yoserizal Zen. “Innalillhaiwainnarojiun, telah berpulang ke Rahmatullah Datuk Tenas Effendi bin T. Said Umar, hari ini, Sabtu (28/2/2015), pukul 00.26 WIB, di RSUD Arifin Ahmad, Pekanbaru,” tulis Yoserizal Zen.
Sebelumnya, Ketua Majelis Kerapatan Lembaga Adat Melayu (LAM) Riau ini dirawat rumah sakit di Melaka. Karena kondisinya semakin memburuk, pihak keluarga dan dokter di Melaka sepakat membawa Tenas Effendi balik ke Riau. Siang tadi, Jumat (27/2/2015) beliau sampai ke Pekanbaru dan langsung dirawat di RSUD Arifin Ahmad. (MK)

Mengenang Pak Tenas
PEKANBARU – Arif, bijaksana, santun, sabar, itulah yang tercermin ketika berhadapan dengan Tenas Effendy, Sang Panglima Kebudayaan Melayu. Keluhuran orang Melayu melekat pada sosok lelaki yang lahir dengan nama Tengku Nasaruddin Said Effendy atau yang lebih dikenal dengan nama Tenas Effendy.

Tenas Effendy lahir di Dusun Tanjung Malim, Desa Kuala Panduk, Pelalawan, pada tanggal 9 November 1936 dari orang tua Tengku Said Umar Muhammad Aljuri dan Tengku Syarifah Azamah binti Tengku Saib Abubakar. Kebiasaan Tenas Effendy “membaca” peristiwa kebudayaan memang sudah dari kecil. Kepekaannya “membaca” sekaligus “merekam” kebiasaan sehari-hari orang Melayu, sangat dipengaruhi oleh ayahandanya.
Ayahanda Tenas Effendi, Tengku Said Muhammad Aljuri merupakan sekretaris pribadi Sultan Said Hasyim, Sultan Pelalawan ke-8 waktu itu. Ayahnya selalu menulis mengenai semua silsilah Kerajaan Pelalawan, adat-istiadat, dan peristiwa penting lainnya dalam sebuah buku yang dinamakan Buku Gajah. Setelah Sultan Said Hasyim mangkat pada tahun 1930, Tengku Said Umar Muhammad dan keluarga pindah dari Pelalawan ke Kuala Panduk dan menjalani aktivitas seperti masyarakat lainnya. Di Kuala Panduk, Tengku Said Umar Muhammad diangkat sebagai Penghulu sekaligus sebagai guru agama yang pertama dan guru sekolah desa.

Seperti anak-anak lainnya, Tenas Effendy juga mengasah pengetahuan di sekolah. Pada usia 6 tahun, Tenas Effendy ‘memetik’ ilmu di Sekolah Agama sekaligus menadah hati di Sekolah Rakyat. Di Sekolah Agama, ayahandanya, Tengku Said Umar Muhammad, menjadi guru, membentangkan pengetahuan agama. Untuk pengetahuan umum, Tenas Effendi mengais di Sekolah Rakyat dengan bimbingan Tengku Said Hamzah. Kedua pengetahuan ini, diserap Tenas kecil dan menjadi pondasi pikirannya dalam mengarungi kehidupan ini.

Perjalanan waktu, beranjak usia. Pada tahun 1950, setelah selesai Sekolah Rakyat di Pelalawan, Tenas Effendi menggali ilmu di Bengkalis dengan menempa diri di Sekolah Guru B (SG B). Di pulau yang tidak begitu luas ini, Tenas Effedi merangkai kata, membuat tulisan dan mengirimkan karya-karyanya ke surat kabar Medan. Di pulau ini juga, dibimbing Dt. Adham, Tenas mempertajam rasa dengan merangkul kegiatan Pandu Hisbulwathan.

Tiga tahun berlalu di “Pulau Terubuk” itu, ‘rasa haus’ akan ilmu untuk memenuhi dahaga jiwa, Tenas Effendi pun hijrah ke Padang. Dengan tekat yang membara untuk mengabdikan diri menjadi guru, di Padang, Tenas melanjutkan pendidikannya di Sekolah Guru A (SG A). Di tanah ini, aktivitas Tenas semakin subur. Kegiatan-kegiatan kesenian mendapat tempat di hati Tenas. Di tanah ini juga, Tenas menceburkan diri masuk organisasi SEMI (Seniman Muda Indonesia). Kecintaan dan kepekaan melalui dunia kesenian, semakin menjadi-jadi pada diri Tenas. Tenas pun terus merajut jiwa dan rasanya dengan mendirikan Himpunan Seniman Muda Padang bersama Salius, salah seorang pendiri Harian Singgalang. Di sinilah Tenas Effendi terus menggeliat dalam kegiatan kesenian. Pementasan drama, tari, musik, membaca puisi dan menulis, semakin tumbuh subur pada diri Tenas Effendi. Tenas semakin piawai merajut keinginan.
Tiada siapa yang dapat membaca perjalanan waktu dengan tepat. Pada tahun 1958, Tanas kembali ke Pekanbaru. Aktivtas kesenian dan semagat menulis, tidak luntur di dirinya. Di Pekanbaru bersama-sama temannya, Tenas terus dan terus menghidupkan rasa keindahan melalui kesenian dan dunia tulis-menulis. Menyadari bahwa ilmu pengetahuan harus diketahui orang banyak, melalui kepiawaiannya menulis, Tenas Effendi dan kawan-kawan, seperti Umar Ahmad Tambusai, Wan Saleh Tamin berkarya menerbitkan buku. ”Lancang Kuning, Kubu Terakhir” merupakan karya fiksi berbentuk novel yang lahir dari pikiran Tenas Effendy.

Ladang kreativitas menulis, tidak akan pernah penuh ‘ditanami’ ide-ide dan gagasan-gagasan dari waktu ke waktu. Ianya semakin luas dan bertambah luas untuk disemai beribu bahkan berjuta gagasan. Maka seiring perjalanan waktu juga, kematangan, kearifan, kebijaksanaan, kelebutan anak manusia terwujudkan. Dan Tenas Effendy salah anak jati Riau, telah membuktikannya dengan sikap dan perbuatannya. Sosok Tenas Effendy menjadi ‘sumur’ kebudayaan yang tidak pernah kering ditimba ilmunya.

Kini, Tenas Effendy telah mendahului kita menghadap Sang Maha Pencipta. Beliau menghembuskan nafas terakhir pada hari Sabtu, tanggal 28 Februari 2015, pukul 00. 26 WIB, di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Arifin Ahmad, Pekanbaru. Selamat jalan Pak Tenas. (Hang Kafrawi, RiauKepri.com)

Tiada ulasan: